Oleh: Drs.Mochamad Taufik, M.Pd

- Mahasiswa S-3 UII DALWA Bangil dan Guru SD Al Hikmah Surabaya


SETIAP hari, kita bangun di pagi hari dengan damai, menikmati sarapan, dan merencanakan aktivitas. Namun, di Palestina, pagi berarti kepulan asap, reruntuhan bangunan, dan jeritan kesakitan. Rumah-rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung hancur dalam hitungan detik oleh bom-bom Zionis Israel. Sekolah-sekolah, tempat anak-anak seharusnya belajar dan bercita-cita, kini berubah menjadi puing-puing tak bernyawa. Rumah sakit, tempat seharusnya orang mendapatkan pertolongan medis, kini menjadi sasaran rudal tanpa belas kasihan.

Tak ada tempat yang aman di Palestina. Bahkan rumah sakit yang didanai oleh rakyat Indonesia, yang berdiri atas dasar solidaritas kemanusiaan, pun tak luput dari serangan biadab ini. Pada Oktober 2024, pasukan Israel membombardir area sekitar Rumah Sakit Indonesia di Gaza, menyebabkan kerusakan signifikan dan pemadaman listrik (CNN Indonesia).

Salah satu serangan terbaru terjadi pada Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan, di mana lima orang tewas, termasuk seorang pejabat senior Hamas. Serangan ini memicu kebakaran hebat dan menambah daftar panjang fasilitas medis yang menjadi target (The Guardian).

Data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa lebih dari 41.000 unit rumah hancur dan lebih dari 222.000 unit lainnya mengalami kerusakan akibat serangan Israel (Antara News). Selain fasilitas kesehatan, sektor pendidikan juga mengalami dampak yang parah. Banyak sekolah hancur akibat serangan, menghambat akses pendidikan bagi anak-anak Palestina dan memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Dunia seakan buta dan tuli terhadap kejahatan ini. Negara-negara adidaya yang selalu berbicara tentang hak asasi manusia justru menjadi pelindung Zionis Israel. Media internasional memberitakan seolah-olah Palestina hanyalah sekadar angka korban, bukan manusia yang punya keluarga, cita-cita, dan harapan. Uni Eropa bahkan mengecam serangan Israel terhadap rumah sakit dan sekolah yang menampung warga Palestina yang mengungsi di Gaza (Tempo). Betapa miris melihat bagaimana standar kemanusiaan dipermainkan demi kepentingan geopolitik!

Romadhon dan Idul Fitri 1446 H di Palestina: Tangis di Tengah Derita

Romadhon seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian, di mana umat Islam berlomba-lomba dalam ibadah dan kebersamaan. Namun, di Palestina, suasana bulan suci ini justru dihiasi dengan isak tangis dan derita. Sahur dan berbuka tidak lagi diiringi dengan canda tawa keluarga, melainkan dengan suara ledakan dan tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. Banyak warga Palestina yang harus berbuka dengan air mata, karena tak ada makanan yang tersisa akibat blokade dan serangan yang terus menerus.

Masjid-masjid yang seharusnya menjadi pusat ibadah kini sebagian besar telah hancur atau rusak. Jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih harus menghadapi ancaman serangan setiap saat. Di tengah puasa yang berat, mereka harus bertahan hidup dengan makanan yang semakin menipis dan air bersih yang sulit diperoleh.

Saat Idul Fitri tiba, kegembiraan yang seharusnya dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia berubah menjadi duka mendalam bagi warga Palestina. Tak ada baju baru, tak ada takbir yang menggema dengan sukacita. Yang ada hanyalah ratapan atas kehilangan anggota keluarga dan rumah yang telah menjadi puing. Anak-anak yang seharusnya berlarian bahagia dengan baju lebaran, justru berjalan di antara reruntuhan mencari sisa-sisa harapan.

Solusi Hakiki: Persatuan Umat Islam untuk Membela Palestina

Kita tidak boleh diam! Diam berarti membiarkan kezaliman ini terus berlangsung. Kita harus bersuara! Kita harus mendukung Palestina dengan segala daya yang kita miliki. Donasi, boikot produk pendukung Zionis, menyebarkan kesadaran, mendesak pemerintah kita untuk bersikap tegas—semua itu adalah bentuk kepedulian yang nyata.

Namun, solusi yang hakiki bukan sekadar kecaman dan solidaritas. Semua negara Islam dan negara dengan penduduk muslim terbesar seperti Indonesia, Turki, Mesir, serta negara-negara Islam di Timur Tengah harus bersatu mengirimkan bantuan nyata berupa senjata dan pasukan untuk membantu kaum Muslim di Palestina. Umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton penderitaan saudaranya. Jika dunia membiarkan kejahatan ini terus berlangsung, maka sudah saatnya negara-negara Islam bangkit dan mengambil tindakan nyata demi melindungi rakyat Palestina dari genosida yang terus terjadi.

Palestina tidak butuh air mata kita, mereka butuh solidaritas dan aksi nyata kita. Jangan biarkan saudara-saudara kita di Palestina berjuang sendirian. Jika kita masih punya hati nurani, maka mari bergerak bersama demi keadilan dan kemanusiaan. Sebab, membela Palestina bukan hanya tentang agama atau politik, tapi tentang mempertahankan kemanusiaan kita! (*)




 
Top